Tak Hanya dari Publik, Stigma Covid-19 Bisa dari Diri Sendiri

Memberi Untuk Negeri

Tak Hanya dari Publik, Stigma Covid-19 Bisa dari Diri Sendiri

April 13, 2020 artikel 0
jenazah Covid-19

Lazismumojokerto.org – Ternyata, stigma terkait Covid-19 tak hanya datang dari publik. Stigma tersebut bahkan bisa muncul dari diri sendiri. Hal tersebut disampaikan Wakil Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Siti Suminarti dalam Covid Talk, Senin (13/4/2020).

Dalam diskusi melalui aplikasi telekonferensi bertajuk Stigma ODP, PDP, Perantau, Tenaga Medis, dan Jenazah (Terduga Covid-19) tersebut, Suminarti mengatakan stigma, baik dari diri sendiri maupun orang lain, tidak muncul secara tiba-tiba.

“Ada mekanisme atau tahapan sehingga muncul perilaku stigma atau disebut diskriminasi,” ujar Suminarti.

Perilaku stigma (diskriminasi) berawal dari isyarat yang muncul dan melekat pada seseorang. Dalam hal wabah Covid-19, isyarat yang muncul berupa tanda yang menunjukkan bahwa seseorang tergolong dalam kelompok tertentu. Misalnya, ODP, PDP, perantau, atau jenazah terduga Covid-19.

“Misalnya, masyarkat tahu bahwa Si A adalah ODP, PDP, atau perantau,” terang Suminarti.

Setelah menunjukkan isyarat, akan muncul keyakinan umum tentang subjek tersebut. Misalnya, keyakinan bahwa seorang ODP, PDP, perantau, atau jenazah terduga Covid-19 kondisinya buruk dan membahayakan. Hal ini disebut stereotipe.

Stereotipe akan berkembang menjadi prasangka. “Contohnya, masyarakat yang memercayai jika Si A akan menularkan Covid-19, maka dia harus dijauhkan,” tutur Suminarti.

Dari stereotipe tersebut, maka memicu munculnya diskriminasi. “Masyarakat akhirnya menolak kehadiran ODP, PDP, perantau, atau jenazah terduga COvid-19 tersebut. Ini yang sekarang sedang terjadi di Indonesia,” tegas Suminarti.

Cemas Itu Wajar

Tak hanya pada stigma publik, hal yang sama juga terjadi pada stigma diri. Diskriminasi yang muncul, bisa berupa subjek yang tidak mau melakukan aktivitas dan menyendiri lantaran meyakini dirinya dalam keadaan yang buruk dan membahayakan orang lain.

Namun demikian, Suminarti menekankan stigma diri adalah hal yang wajar dialami dalam kondisi seperti ini. “Kecuali, jika berlangsung dalam waktu yang lama, maka harus mendapatkan bantuan, bisa dengan konsultasi dengan orang yang kompeten, seperti psikolog,” terangnya.

Stigma bisa muncul dari kecemasan, panik, dan stress. Untuk menghindari itu, Suminarti berpesan agar masyarakat harus mengelola rasa cemas, panik, dan stress tersebut. Sebab, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

“Kriteria sehat mental itu, bisa mengenali potensi dirri, mampu menghadapi stress sehari-hari, produktif, dan bermanfaat untuk orang lain,” pesan Suminarti.

Covid Talk merupakan media diskusi daring melalui aplikasi telekonferensi. Covid Talk diselenggarakan oleh Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) PP Muhammadiyah. (ich)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
1
Hai, ada yang bisa kami bantu?