Promosi Hollywings

Oleh Sugeng Purwanto, Ketua Lembaga Informasi dan Komunikasi PWM Jawa Timur

PWMU.CO– Promosi Hollywings, perusahaan bar dan resto, memicu gejolak di masyarakat. Akibatnya semua tempat usahanya di penjuru kota didemonstrasi dan enam karyawannya ditangkap polisi. Enam orang itu semua bagian promosi.

Promosi Hollywings berbunyi: Orang yang bernama Muhammad dan Maria mendapat minuman gratis di tempatnya. Promosi itu dipasang di akun Instagram pada Rabu, 22 Juni 2022.

Minuman gratis yang ditawarkan itu tentu saja bukan sirup atau es godir tapi jinewer. Ini tentu saja khamr yang haram. Jangankan jinewer atau wiski, minuman anggur kolesom yang dicitrakan sebagai jamu itupun termasuk khamr.

Timbul pertanyaan, apakah tim promosi Hollywings tidak tahu bahwa nama Muhammad itu identik dengan Islam. Sebab nama itu merujuk kepada Nabi Muhammad saw yang disukai orangtua untuk memberi nama anaknya.

Begitu juga nama Maria, merujuk nama ibu Yesus yang dihormati dan disucikan oleh orang Kristen dan Islam.

Manajemen Hollywing menjelaskan memilih dua nama itu berdasarkan data jumlah nama terbanyak yang dipakai dalam medsos.

Kenapa terhadap dua nama itu Hollywings malah menawarkan minuman keras? Seandainya saja perusahaan itu menawari es teler, saya yakin malah dipuji orang. Meskipun namanya teler tapi es ini bukan jenis khamr. Orang-orang bernama Muhammad dan Maria pasti antre demi es teler sebagaimana antrean minyak goreng dan beli beras miskin.

Lagi pula apakah nama Muhammad termasuk dalam pangsa pasar bar dan resto ini? Apakah tim promosi Hollywing tidak tahu bahwa nama Muhammad itu identik muslim, dan muslim haram minum jinewer?

Ah, itu hil yang mustahal, kata Asmuni Srimulat. Tim promosi itu hidup di Indonesia yang mayoritas muslim. Mestinya mereka paham. Kalau tidak tahu, sungguh terlalu, kata Bang Haji Rhoma Irama.

Kalau tim promosi ini benar-benar tidak tahu kondisi sosio religius masyarakat di sekitarnya berarti selama ini mereka merasa hidup di planet lain. Planet yang bisa membuatnya berbuat sesuka hatinya. Apakah ini potret anak muda milenial yang katanya cerdas dan kreatif tapi tidak mengenal lingkungan masyarakatnya?

Maka muncul sekarang spekulasi-spekulasi pemikiran yang menafsiri kejadian ini. Bahwa promosi itu bukan sekadar jualan bir dan gin dengan iklan kontroversial, tapi upaya yang disengaja untuk desakralisasi Islam memakai baju kebebasan berekspresi dan kreativitas.

Ini bentuk lain dari islamofobia yang meriah di negara ini dengan sebutan kodran-kadrun, intoleran, teroris, politik identitas. Bentuk lain itu adalah pelecehan. Mereka ingin menciptakan kondisi bahwa Muhammad sekarang masuk bar dan ngebirTake beer olok-olok para buzzer yang merendahkan makna takbir.

Mereka seperti ada kepuasan bisa mengolok-olok orang muslim. Kalau orang muslim tersinggung maka diolok-olok lagi sebagai intoleran. Jika demonstrasi menuduh radikal. Ketika tempat bisnisnya ditutup mereka teriak-teriak ada ribuan karyawan kehilangan pekerjaan. (*)

Lazismu Kabupaten Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga Berita yang Lain