Setiap Kebaikan Itu Sedekah

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ

Dari Jabir bin Abdillah RA Nabi SAW bersabda: “Setiap kebaikan (perbuatan baik) itu sedekah.” (HR al-Bukhari No. 6021 dan Muslim No. 2375).

Status Hadits

Hadis tersebut dinilai sahih oleh al-Bukhari dalam Sahih al-Bukhari No. 6021. Dan oleh Muslim dalam Sahih Muslim No. 2375.

Selain al-Bukhari dan Muslim, beberapa ulama ahli hadits yang meriwayatkannya adalah Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud No. 4949, Al-Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi No. 1970, al-Nasa-i dalam Sunan al-Nasa-i al-Kubra No. 10701, Ahmad dalam Musnad Ahmad No. 23379, Ibn Abi Syaibah dalam Musannaf Ibn Abi Syaibah No. 25426.

Jua al-Hakim dalam al-Mustadrak No. 2311, al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir No. 1115, Ibn Hibban dalam Sahih Ibn Hibban No. 3378, Ibn Khuzaimah dalam Sahih Ibn Khuzaimah No. 2354, al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra No. 11801, al-Daruqutni dalam Sunan al-Daruqutni No. 2895, dan al-Thahawi dalam Syarh Musykil al-Atsar No. 5478. Muhammad Nashiruddin Al-Albani juga menilai hadis tersebut sahih (al-Albani, Tamam al-Minnah, I/392).

Kandungan Hadits

Hadits tersebut menerangkan bahwa setiap kebaikan (perbuatan baik) itu sedekah. Al-Suyuti menjelaskan bahwa maksud kalimat “setiap kebaikan itu sedekah” adalah semua amal perbuatan yang baik mendapatkan pahala seperti pahala orang yang bersedekah dengan hartanya (al-Suyuti, al-Dibaj ‘Ala Muslim, III/77).

Menurut bahasa, yang dimaksud dengan makruf menurut al-Raghib adalah setiap perbuatan yang dikenal baik oleh syarak dan akal sekaligus.

Ibn Abi Hamzah mengemukakan bahwa makruf adalah semua perbuatan baik berdasarkan dalil-dalil syarak, baik yang sesuai dengan adat atau tidak. Sedangkan yang dimaksud dengan “sadaqah” (sedekah) adalah pahala (al-shadaqatu al-tsawab).

Maksudnya, setiap perbuatan baik akan mendapatkan pahala seperti sedekah dengan harta. Dengan demikian, istilah sedekah sebenarnya tidak hanya dibatasi bagi orang-orang kaya yang dapat mengeluarkan hartanya di jalan Allah, tetapi semua perbuatan baik adalah sedekah, termasuk berakhlak mulia (Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, XVII/165 dan al-Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwadzi, VI/90).

Sedekah Tak Identik Harta

Penegasan setiap kebaikan itu sedekah pernah disampakian oleh Rasulullah SAW kepada beberapa sahabat yang merasa gelisah dan gundah gulana, karena merasa tidak bisa optimal dalam beribadah kepada Allah SWT.

Mereka mengira para sahabat yang memiliki kelebihan harta, kemudian menyedekahkannya di jalan Allah, tentulah akan mendapatkan derajat yang lebih mulia di sisi Allah SWT. Mereka melaksanakan shalat dan puasa, namun mereka dengan hartanya bisa bersedekah, sedangkan kami tidak bisa bersedekah, kata para Sahabat (yang miskin) ini.

Akhirnya Rasulullah SAW—sebagai seorang pemimpin dan guru sejati—memberikan motivasi atau dorongan agar mereka tidak putus asa. Rasululah sekaligus memberikan jalan keluar bagi para sahabat ini. Jalan keluarnya: mereka bisa bersedekah dengan perbuatan baik apa saja, bahkan termasuk dalam hubungan intim suami-istri.

Kisah tersebut tercatat dalam hadits sahih riwayat Muslim, dari Abu Dzar RA bahwasanya beberapa orang dari kalangan sahabat berkata (mengadu) kepada Nabi SAW: “Wahai Rasulullah! Orang-orang kaya telah pergi dengan membawa banyak pahala. Mereka salat seperti kami shalat, mereka puasa seperti kami puasa, dan mereka dapat bersedekah dengan kelebihan harta mereka.”

Beliau kemudian bersabda: “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian sesuatu yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih (bacaan subhanallah) adalah sedekah, setiap takbir (bacaan Allahu Akbar) adalah sedekah.

Setiap tahmid (bacaan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (bacaan la ilaha illallah) adalah sedekah, menyuruh kepada yang makruf adalah sedekah, mencegah dari yang mungkar adalah sedekah, dan salah seorang dari kalian berhubungan intim (jimak) dengan istrinya adalah sedekah.”

Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah! Apakah jika salah seorang dari kami mendatangi syahwatnya (bersetubuh dengan istrinya) maka ia juga mendapatkan pahala?”

Beliau menjawab: “Apa pendapat kalian seandainya ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, bukankah ia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang halal, maka ia memperoleh pahala” (HR. Muslim No. 2376).

Juga hadits dari Abu Dzar, dalam versi lain riwayat al-Tirmidzi ada tambahan contoh perbuatan makruf, Nabi SAW bersabda: “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah, engkau berbuat makruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah.

Engkau menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalan adalah sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu juga sedekah.” (HR. al-Tirmidzi No. 1956). Al-Albani menilai hadis ini sahih (al-Albani: Shahih al-Targhib Wa al-Tarhib, III/14).

Kebaikan Vertikal dan Horizontal

Dari keterangan hadits-hadits tersebut, secara garis besar dapat dipahami bahwa macam-macam kebaikan (makruf) yang bernilai sedekah itu dapat dikategorikan ke dalam dua bagian. Pertama, kebaikan yang bersifat vertikal individual, untuk diri sendiri. Kedua, kebaikan yang bersifat sosial horizontal, untuk orang lain.

Perbuatan baik (makruf) yang bersifat vertikal, untuk diri sendiri, seperti berdzikir, membaca tasbih, tahmid, takbir, tahlil, istighfar, dan bentuk taqarrub lainnya seperti shalat dan membaca al-Quran adalah termasuk sedekah yang bisa mendatangkan pahala bagi diri sendiri.

Selain mendatangkan pahala, amal-amal kebaikan tersebut dapat membangun diri menjadi pribadi yang semakin salih dan semakin dekat kepada Allah.

Aisyah RA meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda: “Bahwasanya setiap manusia, dari anak cucu Adam terlahir dengan 360 (tiga ratus enam puluh) persendian. Maka barang siapa bertakbir, bertahmid, bertasbih, beristighfar, menyingkirkan batu, duri atau tulang dari jalan, melakukan amar makruf nahi mungkar, dengan hitungan sejumlah tiga ratus enam puluh persendian, sungguh pada hari itu ia akan berjalan dengan telah menjauhkan dirinya dari adzab api neraka” (HR Muslim No. 2377).

Dari Abu Dzar, Nabi SAW bersabda: “Di setiap pagi, ada kewajiban sedekah atas setiap persendian dari salah seorang kalian. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar makruf nahi mungkar adalah sedekah. Dan dapat memenuhi semua itu (sedekah untuk 360 persendian) dengan shalat dua rakaat yang dilakukan pada waktu dhuha.” (HR Muslim No. 1704).

Perbuatan baik (makruf) yang bersifat social horizontal, kepada orang lainseperti bersikap ramah kepada orang lain, murah senyum, berbicara sopan, membuang duri atau bebatuan yang mengganggu jalan, menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat, menuntun orang yang berpenglihatan kabur, menuangkan air dari embernya ke ember saudaranya, semua itu adalah bernilai sedekah, berpahala.

Membantu orang lain agar mudah urusannya, menggembirakan orang lain agar terhibur hatinya, membantu memecahkan problem orang lain agar mendapatkan solusinya, semuanya itu adalah perbuatan baik dan bernilai sedekah. Bahkan berbuat baik kepada hewan, seperti memberi makan kucing dan bersikap baik kepada hewan-hewan lainnya, semuanya itu bisa bernilai sedekah.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, dia merasakan kehausan yang sangat, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata: ‘Anjing ini kehausan seperti diriku’. Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah memujinya, memberikan pahala kepadanya dan mengampuninya.”

Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari (berbuat baik) kepada hewan?” Beliau menjawab: ‘Fi kulli kabidin rathbatin ajrun,“ (Bersikap baik) pada setiap makhluk bernyawa akan diberi pahala.” (HR Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 5996).

Sebagai akhir tulisan ini, mari kita renungkan kata mutiara berikut ini: “Saat kita menanam padi, rumput ikut tumbuh, tetapi saat kita menanam rumput tidak pernah tumbuh padi. Dalam melakukan kebaikan, kadang-kadang hal yang buruk turut menyertai, tetapi saat melakukan keburukan, tidak ada kebaikan bersamanya.

Saat kita menarik energi positif, maka energi negatif juga akan ikut tertarik, tetapi ketika kita menarik energi negatif maka tidak pernah tertarik energi positif. Sungguh pun demikian, jangan pernah berhenti berbuat baik dalam kehidupan kita, seberapa pun kebaikan itu, selagi masih bisa.”

Ingat sabda Nabi saw. di atas: “kullu makrufin sadaqatun”, setiap kebaikan itu sedekah! (*)

kajian oleh Dr H Achmad Zuhdi Dh MFil I, Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya

Sumber: pwmu.co

Lazismu Kabupaten Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga Berita yang Lain

Open chat
Ada yang bisa Kami Bantu?
Selamat Datang!
Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Kami melalui Whatsapp.