Ketika Dipaksa Home Schooling (SFH)

Pada tahun 1960-an, John Caldwell Holt seorang pendidik dan penulis dari Amerika Serikat kecewa dengan hasil yang didapatkan anak di sekolah umum. Banyak kekurangan yang membuatnya merasa tidak puas. Terutama sekolah menjadi tempat ‘menyeragamkan’ manusia. Holt mencetuskan ide mengadakan ‘homeschooling’, dimana anak dididik di rumah oleh orang tuanya sesuai dengan kemauan dan kemampuan anak. Jika orang tua tidak mampu mendidik, maka dipanggilkan guru privat untuk mengajari anak mereka.

Homeschooling sejak itu menjadi menu baru dalam sistem pendidikan modern, dan juga menjadi perbincangan menarik baik buruknya dibandingkan dengan sekolah reguler. Namun siapa sangka, 60 tahun kemudian, yaitu 2020, metode homeschooling ala Holt yang kontroversial menjadi suatu keharusan di masa penyebaran virus corona ini. Walaupun namanya diubah menjadi Study from Home (SFH) dengan versi lebih modern sesuai perkembangan zaman. Sekolah yang selama ini banyak yang maju mundur perkara aturan boleh tidaknya siswa membawa ponsel ke sekolah terpaksa mewajibkan pembelajaran via online yang utamanya lewat ponsel. Tidak tanggung-tanggung, pembelajaran SFH ini dilaksanakan mulai tingkat Play Grup sampai perkuliahan S2-S3. Mulai dari timur sampai barat dan utara sampai selatan.

Namun yang jadi masalah, tidak semua sekolah mampu menjawab tantangan situasi seperti ini. Sekolah yang terbiasa tatap muka tanpa adanya teknologi, jelas kewalahan menghadapi situasi seperti ini. Pilihannya ada sampai seorang guru mendatangi rumah muridnya berkelompok kecil, atau udah, dicuekin aja. Saya sendiri melihat banyak anak kecil di kampung kampung bebas bermain dari pagi sampai sore, juga anak usia sekolah yang dewasa bebas jalan atau ngopi di warung, karena mereka bebas dari aturan sekolah. Pihak sekolah, terutama guru sangat lemah dalam penguasaan siswa di media sosial.

Adapun sekolah yang selama ini berkutat dalam WhatsApp Group (WAG), youtube, google form dalam mengatur siswa dan orangtua/wali siswanya, SFH tidak begitu berpengaruh dalam memantau pelajaran anak didiknya. Saya sendiri di SMP Muhammadiyah Plus, ada WAG koordinasi guru, orang tua/wali murid per kelas, siswa per kelas, bahkan sampai WAG yang baru daftar calon siswa, kami punya. Selain WAG, guru-guru juga punya alternatif telegram untuk pembelajaran, bikin materi di youtube, memberi soal online minimal pakai google form. Saya pun sangat bisa mengontrol kegiatan sekolah secara ‘maya’. Sehingga tidak ada kesempatan siswa bebas ke luar di masa pandemi corona.

SFH adalah evaluasi bagi kita pemegang kebijakan di perguruan kita masing-masing. Apakah perguruan kita benar benar bisa menjawab tantangan zaman? Jika merasa bisa, jangan sampai kita kelabakan menata perguruan kita pada masa SFH ini. Pastikan kemudahan dalam pembayaran SPP, pembelajaran siswa, komunikasi orang tua, pemberian nilai, bahkan sampai program PPDB wajib Anda amankan.

Masa SFH adalah masa Anda sebagai pendidik di level apa pun merenung, apakah saya siap mendidik untuk masa depan jika menghadapi masa social dinstance saja saya kelabakan? Dan juga sebagai tantangan, buktikan bahwa sekolah Anda menguasai manajemen siswa sampai di rumah sekali pun, karena jika di rumah saja sekolah bisa mengatur, apalagi siswa itu masuk sekolah secara regular.

Ingat, setelah masa pandemi corona nanti kemungkinan besar akan terjadi perubahan besar-besaran perilaku manusia. Mulai dari kehidupan sosial, ekonomi, politik, bahkan sampai cara pandang memilih sekolah untuk anak mereka. Dan jelas, mereka akan memilih sekolah yang bisa menjawab perubahan tuntutan zaman dengan cepat dan tepat.

Semangat berjuang di perguruan! (PGW)

Oleh: Wirawan, S.Pd.

Kepala SMP Muhammadiyah Plus Kab. Mojokerto

Lazismu Kabupaten Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga Berita yang Lain

Open chat
Ada yang bisa Kami Bantu?
Selamat Datang!
Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Kami melalui Whatsapp.