Tentang Kami
Social WorkerLAZISMU adalah lembaga zakat nasional dengan SK Menteri Agama RI No. 90 Tahun 2022, yang berkhidmat dalam pemberdayaan masyarakat, melalui
Mendidik anak merupakan salah satu hal yang betul-betul diperhatikan oleh Islam. Bahkan, Islam memiliki konsep pengasuhan sejak balita hingga menginjak masa dewasa. Adalah Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat setelah Nabi Muhammad wafat, yang mengajarkan “rumus” mengasuh anak tersebut.
Ali bin Abi Thalib membagi pengasuhan menjadi tiga kelompok. Yaitu, kelompok usia 0-7 tahun (tujuh tahun pertama), asuhlah anak seperti memperlakukan raja, 8-14 tahun (tujuh tahun kedua), asuhlah anak seperti memperlakukan tawanan, dan 15-21 tahun (tujuh tahun ketiga), asuhlah anak seperti memperlakukan sahabat.
Di awal kelahiran si kecil hingga usia 7 tahun, perlakukan si kecil layaknya seorang raja. Melayani anak harus dengan sepenuh hati, sebab segala perlakuan yang kita berikan kepada si kecil di usia ini akan sangat berdampak di masa mendatang.
Jika kita ingin membentuk karakter anak yang perhatian dan bertanggung jawab, layanilah anak dan bahagiakanlah hatinya. Kelak, mereka pun memperlakukan kita dengan hati yang bahagia, dengan perlakuan sebagai mana memperlakukan raja.
Rasulullah mulai memerintahkan seorang anak wajib salat sejak usia 7 tahun. Bahkan, memperbolehkan orang tua memukul atau menghukum anak seperlunya bila mereka meninggalkan salat saat berusia 10 tahun. Oleh karena itu, usia 8-14 tahun adalah waktu yang tepat bagi seorang anak untuk diberikan hak dan kewajiban sesuai kemampuannya.
Sebaliknya, jika anak melakukan kewajiban dan atau hal-hal kebaikan lainnya, berilah anak penghargaan. Penghargaan bisa berupa pujian, pelukan, atau hadiah-hadiah yang dapat menyenangkan hatinya. Hal tersebut memberi pesan pada anak bahwa segala hal akan memberikan konsekuensi tersendiri untuk dirinya.
Di masa ini, anak mengalami peralihan dari masa remaja menuju masa dewasa awal. Berbagai peran baru mungkin dialami anak di masa ini. Baik anak laki-laki maupun perempuan, keduanya memasuki masa akil baligh yang membuat mereka merasakan banyak hal baru dibandingkan masa sebelumya. Menjadi orang tua sekaligus sahabat akan membantu anak menjalani masa peralihan ini dengan baik.
Selain perubahan secara fisik yang mulai dialami anak di masa pubertas, anak di masa ini juga mengalami perubahan secara sosial, budaya, lingkungan, spiritual, dan mental. Berbagai masalah mungkin muncul di masa ini. Misalnya ketika anak mulai menjalin relasi di lingkungan sosial yang lebih luas, melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, bergabung dengan komunitas, atau mengenal lawan jenis.
Berikan waktu dan ruang bersama anak agar ia bisa berbagi perasaan, berdiskusi, dan berbicara dari hati ke hati. Ini akan menanamkan kepercayaan kepada anak bahwa ia memiliki sosok yang selalu ada dalam segala hal yang sedang dilaluinya.
Ibarat bermain layang-layang, ia harus diulur agar terbang dan sesekali ditarik agar seimbang. Begitu pula menjadi orang tua di masa ini. Beri anak kebebasan untuk berpendapat, menyampaikan pilihannya, dan mengambil keputusan. Namun, orang tua tetap harus berperan dalam mengawasi,
Mengekang anak hanya akan menjadikannya semakin ingin memberontak. Namun, memahami keinginannya dan memberikan ruang berekspresi akan membuat anak merasa bahwa ia dicintai, dihargai, dan dihormati. Pahamilah keinginannya dan berikan mereka arahan atas rencananya.
Berikan beberapa tanggung jawab yang lebih berat dibandingkan usia sebelumnya. Ini penting untuk mengajarkan anak lebih cekatan, mandiri, dan bertanggung jawab atas hidupnya. Bekali juga anak dengan keahlian hidup yang lain agar ia bisa hidup mandiri di lingkunan sosial yang lebih luas.
Oleh: Isnatul Chasanah, S. Psi.