Storytelling dengan Anak, Yuk!

Ayah dan Bunda, pendidikan pada anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik (koordinasi motorik kasar dan halus), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio-emosional (sikap perilaku dan beragama), bahasa dankomunikasi, sesuai dengan tahap-tahap yang dilalui oleh anak usia dini.

Pernahkah Ayah Bunda mendengar tentang storytelling? Storytelling merupakan cara menyampaikan suatu cerita secara lisan. Cerita anak yang pada umumnya disampaikan dapat berupa fabel (kisah hewan) atau legenda. Ayah atau bunda yang bercerita berkesempatan menggunakan media seperti boneka buku, atau animasi  untuk storytelling.

Storytelling merupakan salah satu media atau cara yang dapat digunakan untuk menstimulasi anak. Melalui storytelling, Ayah dan Bunda dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, sikap prososial serta kemampuan Bahasa ekspresif dan reseptif pada anak.

Apa itu sikap prososial? Yaitu tindakan suka menolong yang memunyai akibat sosial secara positif. Storytelling dapat membantu orang tua dan guru memahami perkembangan anak dalam beberapa aspek. Di antaranya seperti berikut:

Pertama, memperoleh informasi. Secara tidak langsung, dengan bercerita orang tua telah dan dapat memperoleh informasi terkait perkembangan sang anak, baik aspek kognitif, bahasa, sosial emosional, dan aspek perkembangan lainnya

Kedua, mengenal emosinya. Bercerita turut membantu orang tua dalam proses memahami emosi sang anak dan kemudian membuat rencana upaya dalam membantu anak agar kelak ia dapat mengelola emosinya dengan baik, berpikir fleksibel, serta dapat mengelola dirinya dengan baik dalam situasi apapun.

Ketiga, problem solving atau pemecahan masalah. Memetakan masalah dalam diri anak salah satu caranya dapat melalui story telling. Dengan storytelling, orang tua dapat mengidentifikasi, mencari solusi penyelesaian, serta mengevaluasi bagaimana caranya agar masalah yang ada pada diri anak dapat diatasi sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.  

Storytelling punya banyak dampak positif lho dalam proses pertumbuhan anak. Yuk, simak penjelasannya berikut.

Menumbuhkan kreativitas: Ketika anak mendengar sebuah cerita secara antusias, dia akan berimajinasi tentang jalannya cerita tersebut. Misalnya, penggambaran karakter, latar, dan konflik yang terjadi. Dengan menanamkan berbagai ide, anak akan menjadi lebih kreatif.

Meningkatkan kecerdasan: Berkat rasa ingin tahu yang tinggi, anak akan mampu mengolah alur cerita di dalam pikirannya. Setelah cerita selesai, biarkan anak memahami pesan yang terkandung dari cerita tersebut (pesan moral). Hal itu berguna untuk membiasakannya berbuat baik serta melatihnya berpikir kritis.

Minat baca anak bertambah: Tingkatkan minat baca anak melalui storytelling! Dari mendengarkan, anak akan mulai tertarik untuk membaca buku. Semakin sering ber-storytelling, semakin tumbuh rasa penasaran anak terhadap kisah-kisah menarik serta pengetahuan umum.

Melatih kemampuan bahasa: Kemampuan bahasa dapat berupa kecakapan berbicara ataupun pendalaman suatu bahasa. Storytelling akan melatih anak untuk mendengar, menyimak, dan menyimpulkan sebuah cerita. Dari mendengar, anak belajar kosakata baru. Lalu, dari menyimak dan menyimpulkan, anak belajar berkomunikasi. Dengan storytelling anak pun jadi lebih semangat dan memiliki pengalaman belajar bahasa yang menyenangkan.

Ayah dan Bunda, untuk mendorong efektivitas storytelling anak, praktik pembiasaan dapat diperankan langsung oleh orang tua melalui dua tahapan yaitu:

Tahapan Pra-Bercerita

Tahapan ini dapat dimulai dengan cara, misal anak diarahkan untuk membersihkan diri terlebih dahulu, berdoa. Anak juga dapat diberi pilihan tema cerita sehingga mereka memilih sendiri cerita yang ingin dibacakan, serta menyepakati aturan yang boleh dan tidak selama proses storytelling berlangsung. 

Tahapan Saat Bercerita

Tahapan kedua ini ditekankan pada aktivitas ketika bercerita. Ayah Bunda dapat memulai storytelling dengan meyebutkan/membacakan judul cerita, penulis, illustrator serta mengenalkan tokoh – tokoh dalam cerita.

Ayah Bunda sebaiknya menggunakan intonasi dan ekspresi tertentu ketika menyampaikan cerita. Selain itu, berikan jeda ketika bercerita untuk memberikan kesempatan pada anak memgungkapkan pertanyaan atas pemikiran dan perasaannya terkait cerita tersebut, kemudian dapat diakhiri dengan diskusi, tanya jawab dan  memberikan kesempatan pada anak untuk menceritakan perasaannya, pengalaman terkait dengan isi cerita.

Yuk, lebih dekat dengan anak dengan terbiasa membacakan cerita untuk buah hati 🙂

Sumber: diolah dari laman paudpedia.kemdikbud.go.id

Lazismu Kabupaten Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga Berita yang Lain

Open chat
Ada yang bisa Kami Bantu?
Selamat Datang!
Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Kami melalui Whatsapp.