Mengasuh dengan Penuh Kesadaran

Mengasuh dengan penuh kesadaran atau mindfulness parenting mengajarkan kita bahwa mengasuh tidak bisa dilakukan dengan setengah hati atau setengah perhatian sambil mengerjakan pekerjaan yang lain. Anak-anak membutuhkan pehatian dan kehadiran orang tua secara penuh.

Pengasuhan ini memang kelihatannya membutuhkan banyak pengorbanan, baik dari segi waktu, pikiran dan bahkan juga tidak menutup kemungkinan menguras emosi ayah bunda. Namun hal ini bukanlah pekerjaan yang sia-sia, mindfulnes parenting memberikan banyak manfaat untuk buah hati kita. Apa saja manfaatnya? 

Membantu anak-anak mengatur emosi dan perilaku.  Mindfulness parenting mendorong gaya pengasuhan positif. Pengasuhan positif tentunya dapat mengurangi masalah perilaku pada anak-anak kita. 

Ketika orang tua menetapkan aturan yang jelas dan menegakkannya secara konsisten, secara terbuka menunjukkan cinta dan kasih sayang, dan mencurahkan waktu dan perhatian, maka anak cenderung memiliki perilaku yang positif, misalnya percaya diri, jujur, bertanggung jawab, sopan dan lain sebagainya.

Memupuk komunikasi positif di antara anggota keluarga. Orang tua dan anak-anak sama-sama belajar untuk mengenali perasaan mereka dan mengungkapkannya dengan tenang dan terbuka serta mengetahui bahwa mereka akan didengar, dihormati bahkan saat mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Komunikasi yang positif inilah bekal yang akan mereka bawa sampai dewasa yang membantu kelangsungan hidupnya.

Membantu anak-anak tumbuh dan berkembang menjadi orang dewasa yang sehat dan bermanfaat untuk orang banyak. Saat orang tua mencontohkan keterampilan seperti tetap fokus mendengarkan, kesadaran akan perasaan dan pikiran, berhenti sejenak sebelum bereaksi secara berlebihan saat marah, dan mengungkapkan rasa syukur atas apa yang benar, maka anak-anak meniru segala bentuk perilaku itu sehingga mereka juga akan menerapkan hal yang sama saat dewasa nanti.

Mencontohkan sikap yang sehat terhadap kesalahan dan ketidaksempurnaan. Orang tua berempati, terbuka, dan mendorong pendekatan problem solving untuk pemecahan masalah yang kreatif dan ketika orang tua mengakui kesalahan serta memaafkan anak-anak atas kesalahan mereka, maka anak-anak belajar bahwa mereka dicintai apa adanya.

Perasaan ini diperlukan untuk pengembangan konsep diri yang kuat, realistis, dan sehat. Merekapun akan berlaku sehat untuk orang-orang di sekitarnya nanti saat sudah dewasa.

Mengurangi tingkat stres, kecemasan, dan gejala depresi. Anak-anak yang dibesarkan penuh perhatian maka dan merasakan kasih sayang cukup, akan membuat mereka nyaman dan tenang menjalani hari-harinya. Begitupun pengasuhan yang mambantu anak menglola emosi memudahkan mereka dalam menghadapi berbagai persoalan hidup di masa akan datang sehingga ia lebih tangguh dalam menjalani kehidupannya.

Website Kemdikbud menyebutnya sebagai mengasuh berkesadaran yang mengacu pada sikap, ucapan, dan perilaku serta penampilan orangtua yang mengedepankan kesadaran/eling dalam mengasuh buah hati mereka. Dimensi pertama dari mengasuh berkesadaran ini adalah mendengarkan dengan penuh perhatian dan berbicara dengan empati. Bagaimana caranya?

Memperhatikan raut wajah si anak dan mimiknya. Apakah anak kita dalam kondisi

bahagia atau sebaliknya? Sehingga dengan selalu memperhatikan kita bisa mengenali

apa yang sedang terjadi pada anak kita.

Orangtua memandang mata anak ketika berbicara. Orangtua mampu menilai apakah

percakapan itu terdapat nilai kejujuran atau tidak. Mata adalah jendela hati. Apa yang

keluar dari mulut akan kalah dengan apa yang dipancarkan oleh mata. Acap kali mata

orangtua melihat ke televisi ketika berbicara dengan anak.

Mendengar suara anak dari intonasinya, orangtua bisa mengetahui apakah anak

berada dalam kondisi tenang atau emosi. Mendengar berarti menghadirkan diri sepenuhnya ketika proses berbicara terjadi.

Pastikan proses interaksi terjadi dengan melibatkan empati. Jika semua orangtua mempraktikkan ini maka kita dapat menempatkan diri sebagai orangtua yang benar-benar hadir dan selalu ada buat anak-anak.

Pada fase anak usia dini (batita/balita) kesadaran dan sensitivitas orangtua biasanya

digerakkan oleh tangisan balita sebagai sinyal perilaku ketidak nyamanan fisik/emosi. Kehadiran orangtua dengan eling membuat balita merasa kehadiran yang seutuhnya.

Dari perspektif balita ke-hangatan, kehadiran yang penuh perhatian menjadi penting,

khususnya ketika terlibat dalam interaksi langsung. 

Orang tua yang mempraktikkan konsep mendengar dan berbicara secara eling/ berkesadaran, akan lebih sensitif terhadap isi percakapan dan lebih memahami serta  mengerti anak dari perubahan nada suara, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh.

Selain itu orangtua lebih mampu mendeteksi kebutuhan anak dan makna yang disampaikan anak. Orangtua dapat menangkap makna tersembunyi di balik kalimat-kalimat yang diucapkan

anak, atau perubahan bahasa tubuh yang ditampilkan anak serta perselisihan. Dan yang paling utama adalah kita telah membangun keberanian anak untuk lebih terbuka dengan komunikasi dua arah.

Artikel diolah dari laman Kemdikbud.go.id

Lazismu Kabupaten Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga Berita yang Lain

Open chat
Ada yang bisa Kami Bantu?
Selamat Datang!
Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Kami melalui Whatsapp.