Perempuan dari Masa ke Masa

Sejarah perjuangan Islam tak bisa dilepaskan dari nama Nuaibah binti Ka’ab atau yang lebih dikenal dengan nama Ummu ‘Ammarah. Nusaibah merupakan salah satu delegasi kaum Ansar Madinah dari Bani Mazin. Ia termasuk perempuan yang awal masuk Islam. Suaminya bernama Zaid ibn ‘Asim al-Mazini an-Najjari. Darinya, Nusaibah dikaruniai dua anak yakni Abdullah dan Habib.

Nusaibah dikenal dengan julukan perisai Rasulullah. Sebab, ialah perempuan yang turut serta mendampingi dan membela Rasulullah dalam peperangan. Kisahnya yang paling terkenal ialah saat turut serta dalam perang Uhud pada tahun ke-3 Hijriyah bersama suami dan kedua putranya. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kedudukan Nusaibah binti Ka’ab pada hari ini adalah lebih baik dari kedudukan Fulan dan Fulan.”

Umar juga meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda dalam perang Uhud, ”Setiap kali saya melihat ke kanan dan kiriku, aku selalu melihat ‘Ammarah sedang berperang membentengiku.”

Tidak hanya membela Rasul dalam perang Uhud, sejarah juga mencatat Nusaibah turut dalam bai’at ridwan, memba’iat Rasul untuk membela Islam sampai mati. Kesabaran, keteguhan hati, dan kuatnya fisik dan mental Nusaibah menjadi penanda kegigihan seorang perempuan atas tekadnya. 

Dari Nusaibah ke Dewi Sartika

Di masa yang berbeda, Indonesia mencatat nama salah satu pahlawan perempuan bernama Dewi Sartika. Lewat Dewi Sartika, pondasi pendidikan perempuan diletakkan. Dewi Sartika berjuang keras agar perempuan memeroleh pendidikan, tak hanya berkutat di dalam rumah. 

Bukan hal yang mudah di masa pra kemerdekaan untuk bisa mendirikan sekolah khususnya untuk kaum perempuan. Bukan soal barang mewah, tapi perempuan mendapatkan pendidikan adalah hal yang tak etis di masa itu. Hingga, bupati Bandung Martanegara pun menolak idenya untuk membangun sekolah perempuan.

Namun, bukan Dewi Sartika namanya jika menyerah begitu saja. Di tengah pandangan yang tak umum, Dewi Sartika tetap berjuang mendirikan sekolah yang akhirnya diresmikan oleh bupati Bandung yang menolak idenya. Sekolah itu bernama Sakola Kautamaan Istri yang diresmikan pada 1904. Bermula di Bandung, menyebar di berapa kota di Jawa Barat, dan hingga kini kita bisa merasakan betapa pentingnya pendidikan yang diterima oleh perempuan.

Beberapa artikel ilmiah menyebut, Islamisasi yang tengah berkembang pesat di pulau Jawa ikut memengaruhi gagasan Dewi Sartika. Seperti kita semua tahu, dalam Islam,  menuntut ilmu dan berpendidikan adalah kewajiban manusia, baik perempuan maupun laki-laki. 

Perempuan untuk Kemajuan Peradaban

Di masa yang jauh lebih modern seperti saat ini, kemajuan peradaban tak lepas dari campur tangan perempuan yang berjuang di era sebelumnya. Salah satu tokoh penting perempuan yang juga dinobatkan sebagai pahlawan nasional ialah Nyai Siti Walidah.

Nyai Siti Walidah adalah istri Kyai Haji Ahmad Dahlan, tokoh pendiri Muhammadiyah. Dalam berbagai literatur disebutkan, Nyai Siti Walidah berkontribusi besar dalam membangun kaum perempuan yang lebih berkemajuan. Nyai Siti Walidah adalah putri KH Muhammad Fadlil, seorang ulama dan anggota Kesultanan Yogyakarta. Perjalanan intelektualnya sudah ditempa sejak kecil.

Sebab belum marak sekolah untuk kaum perempuan saat itu, Nyai Siti Walidah belajar di rumah. Di antaranya belajar bahasa Arab, Alquran, serta membaca Alquran dalam naskah Jawa. Turut aktif mendampingi perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam mengembangkan Muhammadiyah, Nyai Siti Walidah mendirikan sekolah dan pusat pendidikan Islam bagi perempuan.

Bagi Nyai Siti Walidah konsep pemikiran pendidikan bagi seorang muslimah tak hanya tahu tugas berumah tangga, tetapi juga harus memiliki pengetahuan mengenai kewajiban bernegara dan bermasyarakat. Karenanya beliau mendirikan sekolah-sekolah putri, menentang kawin paksa, dan tradisi menomorduakan kemakhlukan perempuan pada masa itu. Nyai Siti Walidah menggerakkan perempuan untuk memiliki kesetaraan akses yang sama dengan laki-laki.

Tiga tokoh perempuan yang dikisahkan di atas mewakili keterbukaan pemikiran di tiap zamannya. Di tiap zaman, selalu ada sosok-sosok dengan pemikiran revolusioner yang melampaui zaman. Orang-orang, laki-laki maupun perempuan yang memikirkan masa depan yang belum terpikirkan oleh sebagian besar orang. Orang-orang, laki-laki maupun perempuan dengan mimpi berkemajuan. Tentang kemajuan pendidikan, kesehatan, kehidupan berbangsa-bernegara, modernisaisi beragama. Tentang kemajuan akses yang kelak memudahkan berbagai keperluan. 

Dan realisasi pemikiran bukanlah sebuah keniscayaan tanpa tindakan untuk mewujudkan. Semua bermula dari kontemplasi – sebuah pemikiran tentang pembaharuan, lantas konsep utuh yang matang untuk mewujudkan, dan gerakan-gerakan yang dimulai dari langkah kecil untuk terwujudnya mimpi masa depan.

Lewat perempuan dari masa ke masa, persepsi, status, akses, peran, dan kemajuan untuk perempuan semakin nyata. Kerja dan karya perempuan bukan hanya bisa dilakukan dari rumah. Tapi lebih dari itu, peran dan karya perempuan di berbagai ruang adalah kontribusi nyata untuk kemajuan bangsa dan negara.

Lazismu Kabupaten Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga Berita yang Lain

Open chat
Ada yang bisa Kami Bantu?
Selamat Datang!
Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Kami melalui Whatsapp.