Kekuatan Filantropi di Indonesia

Sebagai negara berkembang, salah satu predikat yang patut dibanggakan adalah Indonesia dikenal memiliki jiwa filantropi yang tinggi. Ciri-cirinya, masyarakat memiliki kepedulian yang tinggi, rasa cinta kasih sesama manusia, gemar beramal, serta kerelaan membantu orang yang membutuhkan tanpa pamrih.

Ciri-ciri itu dapat kita temui dengan mudah. Bukan hanya baru-baru ini saja, tapi ciri khas filantropi tersebut sejatinya sudah mengakar sejak lama di negara kita. Gerakan filantropi di Indonesia bahkan sudah dimulai sejak sebelum masa kemerdekaan.

Salah satu yang mengawali gerakan filantropi di era kolonial Hindia-Belanda ialah Muhammadiyah melalui Penolong Kesengsaraan Oemoem atau PKO. Gerakan filantropi yang dilakukan PKO Muhammadiyah saat itu bersifat inklusif dan non-diskriminatif. Artinya, PKO Muhammadiyah tak pandang bulu soal orang-orang yang menjadi sasaran kedermawanan. Tua-muda, perempuan – laki-laki, dan siapapun yang dipandang memerlukan, maka akan diperhatikan.

Beberapa penelitian terbaru menyebut, selama dua dekade terakhir, gerakan filantropi di Indonesia mengalami peningkatan. Gerakan ini tak hanya menjadi milik organisasi.  Lebih dari itu, gerakan filantropi dimulai dari individu, lembaga, hingga organisasi masyarakat dan pemerintah. 

Peningkatan tersebut menunjukkan semangat kedermawanan yang menguat di masyarakat. Baik berupa zakat, infak, dan maupun sedekah non-komitmen lainnya.

Kerelaan untuk berderma tersebut seringkali tampak dari berbagai momen, meski sering juga tak dibatasi oleh momentum tertentu. Sebut saja saat bencana alam, kita bisa saksikan di sekitar kita bentuk penggalangan dana yang menjamur. Baik oleh lembaga zakat resmi, milik pemerintah, korporasi, komunitas, hingga kelompok-kelompok pelajar dan mahasiswa.

Momentum lain misalnya saat Ramadhan, menjelang Idul Fitri, atau Idul Adha. Yang terbaru, semangat kedermawanan ini tampak semakin menguat di tengah wabah virus corona yang menjadi pandemi global di seluruh dunia. Semangat kedermawanan tersebut ditunjukkan oleh berbagai elemen, mulai individu hingga pemerintah, dari yang terkecil hingga ke tataran pemimpin negara.

Semangat kedermawanan ini menjadi kekuatan di tengah terombang-ambingnya Indonesia dalam menghadapi wabah. Sebab, tak semua negara memiliki kekuatan filantropis sama tingginya dengan Indonesia.

Indonesia, dengan tingkat ekonomi yang masih belum merata, dipenuhi oleh penduduk yang memiliki kepedulian sangat tinggi terhadap kesejahteraan orang lain. Kerelaan untuk berbagi ini tak hanya dimiliki oleh mereka yang tergolong ekonomi tinggi, namun juga siapa saja yang terketuk hatinya untuk berbagi. Filantropi adalah kekuatan bangsa. Memelihara semangat berbagi di tengah pandemi sama halnya dengan menjaga sesama tetap berdiri tegak di tengah badai. Inilah perjuangan nyata yang bisa kita lakukan. (ich, 2020)

Lazismu Kabupaten Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga Berita yang Lain

Open chat
Ada yang bisa Kami Bantu?
Selamat Datang!
Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Kami melalui Whatsapp.